5:49am (Selamat Pagi)

Dia mengenalku baik. Dia tahu segalanya tentangku. Aku tak tahu dia tahu darimana. Terpenting, aku diam-diam mencintainya. 

Ini masih pukul setengah lima pagi. Baru juga selesai sholat subuh. Dia sudah ada di depan rumahku. Aku bergegas mengambil kamera dan tripotku. Ya, kami akan menyaksikan matahari terbit!

Sesampainya di lokasi, aku segera memasang kameraku pada tripot. Lalu kubiarkan saja kamera itu menyala merekam kejadian yang ada di depannya. Sementara aku dan dia duduk di sebelah kamera sambil menikmati roti panggang yang tadi aku buat.

Matahari perlahan menunjukkan tanda kehidupannya dari ufuk timur. Hawa panas mulai terasa. Aku melepaskan jaket. Sama halnya dia, melakukan sesuatu yang sama sepertiku. Kemudian dia menjatuhkan kepalanya pada bahuku. Ah, seandainya dia tahu betapa bahagianya aku ketika ia melakukan hal itu. Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku tak ingin ia mengetahui apa yang aku rasakan. Bisa rusak persahabatan kami nanti. Persahabatan yang sudah kami bangun selama 4 tahun.

“Lihat, matahari sudah hampir terlihat seluruhnya!” Aku mengatakan hal itu terlalu keras membuat dia bangun dari bahuku. Aku menengok ke arahnya. Aku lihat senyum sumringahnya yang manis dan binar matanya yang tampak bahagia. Lantas kami berdiri. Aku tersenyum lebar ketika matahari bergerak naik pertanda ia akan kembali menyinari semesta. Tak butuh waktu lama untuk menunggu matahari muncul seutuhnya. Akhirnya, matahari terbit dengan sempurna! Aku senang sekali. Ini pertama kalinya aku menyaksikan matahari terbit. Kami berpelukan sambil tertawa dan berputar.

“Selamat pagi, Gadis Amoraldhy.”
“Selamat pagi juga, Alva Maherdika.”

1:00am 

Kepada yang suka bilang cinta itu ga rumit, hanya orangnya yg bikin rumit.

Cinta-cintaan itu kadang juga rumit. Orang-orangnya kadang yang ga rumit.

Kayak aku sekarang. Cinta itu rumit karena bikin aku gabisa tidur. Aku ga rumit karena bukan aku yang bikin diriku sendiri gabisa tidur.

Oh please aku gasuka jatuh cinta terkadang.

11:00pm (Sewaktu Malam)

Malam ini ada yang berbeda pada semesta. Ya, bulan nampak besar di atas sana. Aku bahagia melihatnya. Pemandangan langka seperti ini tidak boleh dilewatkan. Aku memutuskan duduk di belakang mobil dengan pintunya yang terbuka untuk menikmati bulan malam ini. Ditemani dia, yang akhir-akhir ini membuat hariku berwarna.

Kulihat tadi dia tersenyum lucu melihatku memandangi bulan seperti oran gila. Aku sadar, dia tak melepaskan pandangannya dariku. Ah, aku jadi gugup. Aku terus melihat bulan. Aku malu untuk menengok dia.

Kemudian aku beranikan menengoknya. Dia tertawa sambil mengelus kepalaku lalu merangkulku masuk kepelukannya.

Malam ini sangat indah. Aku menghabiskan malamku di bawah bulan yang besar dengannya, dipelukannya. Aku tak henti tersenyum. Dia pun tak henti mengecup ubun-ubunku.

6:40pm (Sebuah Senjaku)

Di seberangku, tampak matahari akan pulang. Aku sempatkan untuk mengucapkan perpisahan. Ditemani dia, seseorang yang akhir-akhir ini menemaniku. Aku nikmati senjaku. Kami bercerita tentang senja dan apa saja yang akan kami lakukan besok ketika senja datang lagi. Sore ini terasa berbeda, tidak seeprti biasanya. Dia terlihat sakit dan kurang bersemangat. Tapi tak henti bercerita tentang masa depan. Aku menatapnya dengan kasihan.

Sayang, matamu terlihat merah. Wajahmu lesu. Ada apa?

Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku. Dia berkata bahwa ia hanya lelah bekerja hari ini. Aku menghela napas. Lalu bersandar pada pundaknya.

Tempat ini terasa milik berdua. Padahal, di belakang kami ada orang lain. Kami tak menghiraukannya. Dia terus bercerita sambil sesekali menggelitikku. Aku terus tertawa. Gelitiknya sebenarnya tak terlalu geli. Namun, wajah imutnya yang menggodaku membuatku geli. Dia begitu sennag menggodaku. Tak pernah aku rasakan sedih ketika bersamanya. Ya, dia membuatku bahagia.

5:04pm

​Bagaimana cara aku melampiaskan rasa cintaku padamu?
Mendoakanmu. Dalam tiap shalat, aku tak lupa menyebut pula namamu dalam doa. Kamu tak perlu ada di sini untuk aku sentuh karena kamu sangat tidak memungkinkan untuk aku sentuh. Kamu tak perlu tau sekarang bahwa aku mencintaimu. Cukup Tuhan dan aku yang tahu bahwa saat ini aku sungguh inginkan kamu. Jodoh memang kita yang berusaha mencari dan Tuhan yang merestui. Aku percaya, jika Tuhan merestui dan mengabulkan doaku, kita akan bersama. Tuhan akan memupuk rasa cintamu padaku dalam hatimu. Kemudian aku akan memetik cinta itu. 

12:13am

Pertama, syaa berterima kasih kepada manusia yang sudah mau membaca kicauan saya yang tidak jelas ini. Saya hanya sharing apa yang saya alami.
Beberapa orang suka nanyain saya, “audi pacarnya siapa?” Bahkan keluarga dan teman dari orang tua saya bertanya hal yang serupa.
Dengan santai, saya menjawab, “tidak. Saya tidak pacaran hehe.” Begitupun dengan orang tua saya. Dengan ringan menjawab,”audinya tidak pacaran.”

Ya memang, dulu dulu saya sempat merasakan namanya pacaran dan menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat. Tapi untuk kali ini, saya berpikir untuk lebih baik istirahat dulu ‘cinta-cintaan’nya.

Kenapa?

Baca lebih lanjut