10:30pm (Ketika Dia Kembali, Di Sebuah Kota yang Baru)

Aku pergi ke sebuah kota yang baru. Pendidikan itu penting. Keluargaku mendukungku. Aku bahagia. Aku tenang.

Aku pergi ke sebuah kota yang baru tanpa sedikitpun merasakan luka. Aku rasa aku sudah berhasil melupakannya. Aku tak menunggunya di airport untuk mengucapkan selamat jalan. Aku tenang.

Tapi rasa itu tak bertahan lama. Dia datang. Dia mengirimku pesan. Dia merindukanku. Dia berkata bahwa dia sering mencium tas yang aku berikan padanya, menggunakan barang-barang kecil yang aku berikan padanya. Dia berkata bahwa dia sungguh merindukanku. Wangi parfumku masih tercium pada tas yang aku berikan, katanya. Dia merindu betapa aku menggemaskan hingga dia mencubit pipiku sampai merah, katanya.

Luka ini terkelupas. Perih. Kata maaf sama sekali tak berguna. Aku lebih baik tak mendengar dia berkata maaf. Semuanya sudah terlambat. Siapa yang bilang bahwa tak ada kata terlambat untuk bilang maaf? Ah, semuanya sudah terlambat. Aku bukan tipe orang yang suka menyesali sesuatu. Namun aku tak suka dibuat merasa bersalah.

Egois?

Aku berharap dia berpikir bahwa dia sendiri lebih dari sekedar egois. Dia jahat. Kenapa dia harus menghadirkan aku diantara mereka? Sedangkan aku tak tau apa-apa. Kemudian aku disalahkan atas suatu keadaan. Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi sesuatu diantara mereka. Namun kamu membuat sesuatu yang bukan mimpi malah menjadi nyata. Kejam.

Aku berharap aku tak bertemu lagi denganmu. Jangan lagi sebut namaku.

Iklan

5:49am (Selamat Pagi)

Dia mengenalku baik. Dia tahu segalanya tentangku. Aku tak tahu dia tahu darimana. Terpenting, aku diam-diam mencintainya. 

Ini masih pukul setengah lima pagi. Baru juga selesai sholat subuh. Dia sudah ada di depan rumahku. Aku bergegas mengambil kamera dan tripotku. Ya, kami akan menyaksikan matahari terbit!

Sesampainya di lokasi, aku segera memasang kameraku pada tripot. Lalu kubiarkan saja kamera itu menyala merekam kejadian yang ada di depannya. Sementara aku dan dia duduk di sebelah kamera sambil menikmati roti panggang yang tadi aku buat.

Matahari perlahan menunjukkan tanda kehidupannya dari ufuk timur. Hawa panas mulai terasa. Aku melepaskan jaket. Sama halnya dia, melakukan sesuatu yang sama sepertiku. Kemudian dia menjatuhkan kepalanya pada bahuku. Ah, seandainya dia tahu betapa bahagianya aku ketika ia melakukan hal itu. Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku tak ingin ia mengetahui apa yang aku rasakan. Bisa rusak persahabatan kami nanti. Persahabatan yang sudah kami bangun selama 4 tahun.

“Lihat, matahari sudah hampir terlihat seluruhnya!” Aku mengatakan hal itu terlalu keras membuat dia bangun dari bahuku. Aku menengok ke arahnya. Aku lihat senyum sumringahnya yang manis dan binar matanya yang tampak bahagia. Lantas kami berdiri. Aku tersenyum lebar ketika matahari bergerak naik pertanda ia akan kembali menyinari semesta. Tak butuh waktu lama untuk menunggu matahari muncul seutuhnya. Akhirnya, matahari terbit dengan sempurna! Aku senang sekali. Ini pertama kalinya aku menyaksikan matahari terbit. Kami berpelukan sambil tertawa dan berputar.

“Selamat pagi, Gadis Amoraldhy.”
“Selamat pagi juga, Alva Maherdika.”

1:00am 

Kepada yang suka bilang cinta itu ga rumit, hanya orangnya yg bikin rumit.

Cinta-cintaan itu kadang juga rumit. Orang-orangnya kadang yang ga rumit.

Kayak aku sekarang. Cinta itu rumit karena bikin aku gabisa tidur. Aku ga rumit karena bukan aku yang bikin diriku sendiri gabisa tidur.

Oh please aku gasuka jatuh cinta terkadang.

11:00pm (Sewaktu Malam)

Malam ini ada yang berbeda pada semesta. Ya, bulan nampak besar di atas sana. Aku bahagia melihatnya. Pemandangan langka seperti ini tidak boleh dilewatkan. Aku memutuskan duduk di belakang mobil dengan pintunya yang terbuka untuk menikmati bulan malam ini. Ditemani dia, yang akhir-akhir ini membuat hariku berwarna.

Kulihat tadi dia tersenyum lucu melihatku memandangi bulan seperti oran gila. Aku sadar, dia tak melepaskan pandangannya dariku. Ah, aku jadi gugup. Aku terus melihat bulan. Aku malu untuk menengok dia.

Kemudian aku beranikan menengoknya. Dia tertawa sambil mengelus kepalaku lalu merangkulku masuk kepelukannya.

Malam ini sangat indah. Aku menghabiskan malamku di bawah bulan yang besar dengannya, dipelukannya. Aku tak henti tersenyum. Dia pun tak henti mengecup ubun-ubunku.

6:40pm (Sebuah Senjaku)

Di seberangku, tampak matahari akan pulang. Aku sempatkan untuk mengucapkan perpisahan. Ditemani dia, seseorang yang akhir-akhir ini menemaniku. Aku nikmati senjaku. Kami bercerita tentang senja dan apa saja yang akan kami lakukan besok ketika senja datang lagi. Sore ini terasa berbeda, tidak seeprti biasanya. Dia terlihat sakit dan kurang bersemangat. Tapi tak henti bercerita tentang masa depan. Aku menatapnya dengan kasihan.

Sayang, matamu terlihat merah. Wajahmu lesu. Ada apa?

Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku. Dia berkata bahwa ia hanya lelah bekerja hari ini. Aku menghela napas. Lalu bersandar pada pundaknya.

Tempat ini terasa milik berdua. Padahal, di belakang kami ada orang lain. Kami tak menghiraukannya. Dia terus bercerita sambil sesekali menggelitikku. Aku terus tertawa. Gelitiknya sebenarnya tak terlalu geli. Namun, wajah imutnya yang menggodaku membuatku geli. Dia begitu sennag menggodaku. Tak pernah aku rasakan sedih ketika bersamanya. Ya, dia membuatku bahagia.

5:04pm

​Bagaimana cara aku melampiaskan rasa cintaku padamu?
Mendoakanmu. Dalam tiap shalat, aku tak lupa menyebut pula namamu dalam doa. Kamu tak perlu ada di sini untuk aku sentuh karena kamu sangat tidak memungkinkan untuk aku sentuh. Kamu tak perlu tau sekarang bahwa aku mencintaimu. Cukup Tuhan dan aku yang tahu bahwa saat ini aku sungguh inginkan kamu. Jodoh memang kita yang berusaha mencari dan Tuhan yang merestui. Aku percaya, jika Tuhan merestui dan mengabulkan doaku, kita akan bersama. Tuhan akan memupuk rasa cintamu padaku dalam hatimu. Kemudian aku akan memetik cinta itu.