10:30pm (Ketika Dia Kembali, Di Sebuah Kota yang Baru)

Aku pergi ke sebuah kota yang baru. Pendidikan itu penting. Keluargaku mendukungku. Aku bahagia. Aku tenang.

Aku pergi ke sebuah kota yang baru tanpa sedikitpun merasakan luka. Aku rasa aku sudah berhasil melupakannya. Aku tak menunggunya di airport untuk mengucapkan selamat jalan. Aku tenang.

Tapi rasa itu tak bertahan lama. Dia datang. Dia mengirimku pesan. Dia merindukanku. Dia berkata bahwa dia sering mencium tas yang aku berikan padanya, menggunakan barang-barang kecil yang aku berikan padanya. Dia berkata bahwa dia sungguh merindukanku. Wangi parfumku masih tercium pada tas yang aku berikan, katanya. Dia merindu betapa aku menggemaskan hingga dia mencubit pipiku sampai merah, katanya.

Luka ini terkelupas. Perih. Kata maaf sama sekali tak berguna. Aku lebih baik tak mendengar dia berkata maaf. Semuanya sudah terlambat. Siapa yang bilang bahwa tak ada kata terlambat untuk bilang maaf? Ah, semuanya sudah terlambat. Aku bukan tipe orang yang suka menyesali sesuatu. Namun aku tak suka dibuat merasa bersalah.

Egois?

Aku berharap dia berpikir bahwa dia sendiri lebih dari sekedar egois. Dia jahat. Kenapa dia harus menghadirkan aku diantara mereka? Sedangkan aku tak tau apa-apa. Kemudian aku disalahkan atas suatu keadaan. Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi sesuatu diantara mereka. Namun kamu membuat sesuatu yang bukan mimpi malah menjadi nyata. Kejam.

Aku berharap aku tak bertemu lagi denganmu. Jangan lagi sebut namaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s