9:11pm

Suatu hari, aku mendengar percakapan antara otak dan hati. 

Hati (H): Aku tadi melihatnya dengan orang lain. Perih. Tapi aku bukan siapa-siapanya. Seandainya, aku tidak mengenalnya dan aku tidak jatuh padanya. Seandainya, dari awal aku tahu bahwa dia sama sekali tidak cinta padaku. Hanya aku yang cinta padanya. Aku benci padanya. Dasar, pemabuk, pemain wanita, ibadah tidak pernah. Pintar, tapi pribadinya buruk. Aku benci dia.

Otak (O): Hei! Sabar, tenang. Pernahkah kau berpikir bahwa kau adalah orang yang baik dan sempurna? Kau pantas mendapatkan yang baik dan sempurna juga. Bukan dia, yang pemabuk dan tak pernah ibadah. Seorang yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Begitu sebaliknya, yang buruk akan mendapatkan yang buruk pula. Bersyukurlah, setidaknya kau dijauhkan dari orang yang buruk, sehingga kau tidak tersilet lebih banyak lagi yang dapat menyakitimu lebih dari ini. 🙂

Iklan

8.30am

Halo! Sudah lama tidak menulis ya. Terlalu sibuk dengan perkuliahan. 

Aku mencintai kecerdasannya. Benar kata orang. Ketika kita berjalan lebih jauh keluar zona nyaman, kita akan selalu menemukan yang baru dan lebih sempurna dari apa yang kita miliki dan pernah miliki.

Aku menemukanmu.

Aku rasa kamu lebih baik darinya. Aku tak bisa berdusta, itu kenyataannya. Dengan mudahnya, aku jatuh cinta. Bahkan saat pertama kali berbicara. Semudah itu aku jatuh cinta? 

Tidak biasanya. Aku kira, aku sudah mati rasa. Mengabaikan banyak orang yang mencoba mendekatiku. 

Dia “yang dulu”, sangat mencintai uang. Kamu, mencintai sastra. 

Kamu beda.

Ya, bagi sebagian orang mungkin lelaki sastra adalah sebuah kesuraman masa depan. 

Tidak bagiku. Aku begitu percaya bahwa sastra dapat membuat dunia lebih cerah. 

Berbicara denganmu itu sulit bagiku. Gugup, bisa salah ngomong aku. Tapi aku berusaha keras untuk biasa saja dan aku yakin kamu tidak mengetahuinya. 

Aku mencintaimu.
Tertanda, Audi yang sedang jatuh cinta dengan seorang yang kompleks dan tidak peka.

Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. -Bernard Batubara, Luka dalam Bara.

10:30pm (Ketika Dia Kembali, Di Sebuah Kota yang Baru)

Aku pergi ke sebuah kota yang baru. Pendidikan itu penting. Keluargaku mendukungku. Aku bahagia. Aku tenang.

Aku pergi ke sebuah kota yang baru tanpa sedikitpun merasakan luka. Aku rasa aku sudah berhasil melupakannya. Aku tak menunggunya di airport untuk mengucapkan selamat jalan. Aku tenang.

Tapi rasa itu tak bertahan lama. Dia datang. Dia mengirimku pesan. Dia merindukanku. Dia berkata bahwa dia sering mencium tas yang aku berikan padanya, menggunakan barang-barang kecil yang aku berikan padanya. Dia berkata bahwa dia sungguh merindukanku. Wangi parfumku masih tercium pada tas yang aku berikan, katanya. Dia merindu betapa aku menggemaskan hingga dia mencubit pipiku sampai merah, katanya.

Luka ini terkelupas. Perih. Kata maaf sama sekali tak berguna. Aku lebih baik tak mendengar dia berkata maaf. Semuanya sudah terlambat. Siapa yang bilang bahwa tak ada kata terlambat untuk bilang maaf? Ah, semuanya sudah terlambat. Aku bukan tipe orang yang suka menyesali sesuatu. Namun aku tak suka dibuat merasa bersalah.

Egois?

Aku berharap dia berpikir bahwa dia sendiri lebih dari sekedar egois. Dia jahat. Kenapa dia harus menghadirkan aku diantara mereka? Sedangkan aku tak tau apa-apa. Kemudian aku disalahkan atas suatu keadaan. Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi sesuatu diantara mereka. Namun kamu membuat sesuatu yang bukan mimpi malah menjadi nyata. Kejam.

Aku berharap aku tak bertemu lagi denganmu. Jangan lagi sebut namaku.

5:49am (Selamat Pagi)

Dia mengenalku baik. Dia tahu segalanya tentangku. Aku tak tahu dia tahu darimana. Terpenting, aku diam-diam mencintainya. 

Ini masih pukul setengah lima pagi. Baru juga selesai sholat subuh. Dia sudah ada di depan rumahku. Aku bergegas mengambil kamera dan tripotku. Ya, kami akan menyaksikan matahari terbit!

Sesampainya di lokasi, aku segera memasang kameraku pada tripot. Lalu kubiarkan saja kamera itu menyala merekam kejadian yang ada di depannya. Sementara aku dan dia duduk di sebelah kamera sambil menikmati roti panggang yang tadi aku buat.

Matahari perlahan menunjukkan tanda kehidupannya dari ufuk timur. Hawa panas mulai terasa. Aku melepaskan jaket. Sama halnya dia, melakukan sesuatu yang sama sepertiku. Kemudian dia menjatuhkan kepalanya pada bahuku. Ah, seandainya dia tahu betapa bahagianya aku ketika ia melakukan hal itu. Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku tak ingin ia mengetahui apa yang aku rasakan. Bisa rusak persahabatan kami nanti. Persahabatan yang sudah kami bangun selama 4 tahun.

“Lihat, matahari sudah hampir terlihat seluruhnya!” Aku mengatakan hal itu terlalu keras membuat dia bangun dari bahuku. Aku menengok ke arahnya. Aku lihat senyum sumringahnya yang manis dan binar matanya yang tampak bahagia. Lantas kami berdiri. Aku tersenyum lebar ketika matahari bergerak naik pertanda ia akan kembali menyinari semesta. Tak butuh waktu lama untuk menunggu matahari muncul seutuhnya. Akhirnya, matahari terbit dengan sempurna! Aku senang sekali. Ini pertama kalinya aku menyaksikan matahari terbit. Kami berpelukan sambil tertawa dan berputar.

“Selamat pagi, Gadis Amoraldhy.”
“Selamat pagi juga, Alva Maherdika.”

1:00am 

Kepada yang suka bilang cinta itu ga rumit, hanya orangnya yg bikin rumit.

Cinta-cintaan itu kadang juga rumit. Orang-orangnya kadang yang ga rumit.

Kayak aku sekarang. Cinta itu rumit karena bikin aku gabisa tidur. Aku ga rumit karena bukan aku yang bikin diriku sendiri gabisa tidur.

Oh please aku gasuka jatuh cinta terkadang.